BeritaHukrimPolri

Direktorat Tipidter Mabes Polri Berhasil Bongkar Kasus Illegal Logging di Kalteng

13
×

Direktorat Tipidter Mabes Polri Berhasil Bongkar Kasus Illegal Logging di Kalteng

Sebarkan artikel ini

LAMONGAN JATIM, RETORIKANEWS — Dilansir dari media detik.com bahwa Direktorat Tipidter Bareskrim Polri membongkar kasus illegal logging di Desa Tumbang Baloi, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Satu orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.

Seorang tersangka tersebut berinisial J yang juga menjabat sebagai surveyor dari PT CSS. Tersangka diketahui sebagai pemberi perintah pembalakan liar yang kemudian dijual ke Lamongan.

Direktur Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Mabes Polri Brigjen Nunung Syaifuddin mengatakan pengungkapan berawal dari laporan terkait pembalakan liar sejak November hingga Desember tahun 2023

Laporan itu, lanjut Nunung, kemudian ditindaklanjuti dan polisi menemukan barang bukti kayu hutan sebanyak 1.790 gelondong. Termasuk kayu yang ada di Lamongan sebanyak 176 gelondong atau total setara 7.495, 51 meter kubik.

Barang bukti tersebut diketahui merupakan hasil penebangan liar PT CSS yang berkantor Kelurahan Kelapa Gading Timur, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara. PT CSS merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan alam.

Sedangkan lokasi pembalakan yang dilakukan PT CSS berada di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan atau PBPH di Km 58, Desa Tumbang Baloi, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.

“Penyelidikan bermula adanya informasi dugaan tindak pidana di bidang kehutanan yang dilakukan PT CSS sejak 28 November hingga 1 Desember 2023 dengan petunjuk ditemukannya tunggak-tunggak bekas tebangan dan jalan yang dibuat menggunakan alat berat berupa buldozer,” terang Nunung saat jumpa pers di Lamongan, Kamis (18/1/2024).

Penyidik melakukan pengambilan titik koordinat dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XXI Palangkaraya untuk memastikan peta izin lokasi PT CSS dan dipastikan lokasi tunggak bekas tebangan berada di luar izin areal PT CSS,” imbuhnya.

Dari penemuan ini, polisi selanjutnya memeriksa 13 orang Saksi dari PT CSS. Dari hasil pemeriksaan polisi kemudian menetapkan satu orang berinisial J sebagai tersangka. Tersangka lain juga kemungkinan bertambah sebab saat ini kasus masih dikembangkan.

Dalam perkara ini, penyidik menetapkan satu tersangka berinisial J, selaku surveyor PT CSS yang memerintahkan kepada penebang untuk melakukan penebangan di luar konsesi PT CSS,” tutur Nunung.

Terhadap tersangka J, tegas Nunung, penyidik akan menjeratnya dengan Pasal 78 Ayat (6) Jo Pasal 50 Ayat (2) Huruf c UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.

“Ancaman hukumannya pidana paling lama 5 tahun, dan denda paling banyak Rp 3,5 miliar,” tandas Nunung.

 

Sumber: Polri Brigjen Nunung Syaifuddin